Perpisahan Tanpa Kata
Sebuah pesan pendek menyergap ponsel Angga Kurnia. “Aku di Jakarta,“ pesan singkat yang membuat ia batal memasuki lift. Ia menekan tombol hijau pada nama itu. “Halo,“ suara perempuan itu terdengar mesra. “Oh, hai. Kau sampai kapan di Jakarta?“ Angga tak mampu menyembunyikan rasa gembira. Bagaimanapun, mantan kekasih selalu menimbulkan rasa yang tak dapat dijelaskan dengan logika. Sore itu seharusnya cerah. Jakarta terkadang penuh dengan kesenangan, tapi bisa saja berubah menjadi tempat terkutuk. Ketika hujan tiba-tiba mengguyur hebat, dan sukses membuat kemacetan menjadi lebih gila dari biasanya, itulah terkutuk tahap pertama. Taksi-taksi tidak menyalakan lampu biru, artinya dia sudah terisi. Itu terkutuk tahap dua. Angga mengumpat sambil membuang rokoknya yang belum sepenuhnya terisap. Ia tak mau berisiko menggunakan mobil dengan pelat nomor cantiknya. Betapapun hasratnya membuncah untuk menunjukkan pada mantan kekasih bahwa ia telah berhasil, ia tetap punya kendali atas segala ...