Posts

Lelah

Namanya Sabira, berusia 25 tahun. Bobot tubuhnya 110 kg dengan tinggi badan 155 cm. Kegemaran yang dimilikinya membuatku lelah. Ingin aku beristirahat, nyata waktu istirahatku hanya saat dirinya tertidur lelap. Bahkan saat tidurpun dirinya mengoceh tak karuan dalam tidurnya, biasa disebut mengigau. Terkadang ingin aku pergi meninggalkannya, karena aku berpikir, akulah yang paling sering bekerja keras untuknya. Tapi aku tersadar akan temanku yang lain, ada usus pencernaan dalam tubuhnya yang tak kalah lelah bekerja. Jadi satu-satunya jalan adalah mengambil tugas bagian dari dirinya. Pagi ini baru saja dirinya terbuka matanya, belum mandi bahkan tentu belum menyikatku, barisan putih nan menawan saat dirinya tersenyum. Sabira oh Sabira. Mengapa dirimu suka sekali makan? Kelebihan berat badan membuatnya tidak cukup cekatan. Bahkan untuk sekedar berjalan ke dapur untuk mengambil gunting untuk membuka kemasan Snack saja lagi-lagi dia membuatku kepayahan, menggigit bungkusan plastik sekencang...

Muasal Cerita

Tak dinyana, sungguh lika-liku perjalanan menuju titik permikahan tak seperti yang dibayangkan sebelumnya.  Tak seperti sekedar rencana atau citraan-citraan yang biasa menlintas di benak. Berasal dari satu momen ketika itikad terpancar demikian kuatnya, maka atas panduan-Nya, langkah-langkah pun terus berayun. Penggal demi penggal kisah, pertanda demi pertanda pun akhirnya membawa kami pada sebuah pertemuan istimewa ini. Seperti perumpamaan yang digunakan dalam risalah yang penuh nasihat kebijaksanaan. Langit dan Bumi: Laki-laki dan Perempuan memang diciptakan-Nya dalam fitrah-Nya yang sungguh berbeda. Satu sama lain saling memberi, saling mengisi, saling menyempurnakan. Semua tertakdir demikan karena kebutuhan yang satu memang hanya bisa terpenuhi oleh yang lain. Bila tidak bertemu, apa yang dibutuhkan oleh masing-masing tak akan pernah terpenuhi, tak pernah pula mencapai keutuhan, apalagi menyentuh kesempurnaan. Bahkan ibadat yang satu seolah hampa dan tak sungguh ada bila yang l...

Hilang

Mentari pagi terbit dari ufuk timur serta menembus jendela kamar tidurku. Tidak seperti biasanya hanya terdapat satu pemberitahuan di handphone, itupun dari temanku yang mengingatkanku buat mengisi absensinya. Biasa, penyakit mahasiswa. Nama gadis tersebut merupakan Nur Zahra, biasa aku memanggilnya dengan Zahra. Perempuan yang sudah mengisi penuh hati ini. Biasanya zahra senantiasa meneleponku pagi-pagi sekali hanya untuk mengingatkanku buat sarapan pagi, dengan kata-katanya yang telah kuhapal. "Selamat  pagi Andre sayang. Jangan lupa sarapan serta jangan sampai telat ke kampus ya.”  Tetapi hari ini tidak ada kata-katal penyemangat bagiku di pagi ini. Kulirik jam bilik di kamarku yang sudah menampilkan jam 8 yang berarti, satu jam lagi aku wajib hadir di kampus. Siapa pun tidak akan mau mendengar ocehan diiringi ceramahnya Pak Yasir yang merupakan dosen terkiller di kampusku. Setelah jam kuliahku berakhir, aku langsung bergegas mengarah ke rumahnya Zahra. Jarak dari kampusku ...