Posts

Penumpang Taksi

  Penumpang Taksi Titik-titik air membasahi kaca luar taksi. Kukemudikan taksi dengan kecepatan 60 kilometer per jam sepanjang jalan S. Jalan di pusat kota J yang selalu sibuk pada siang hari itu sekarang lenggang. Kulirik arloji di tangan, pukul satu dini hari. “Oya, Halo Bung Wir… Selamat malam,” sapa penumpangku pada lawan bicaranya di telepon. Sejak masuk taksiku, telpon genggamnya itu tak lepas-lepas dari kupingnya. Entah sudah berapa orang yang ia ladeni bicara sejak tadi. “Gampang itu Bung. Bisa diatur. Hehehe…” pria itu terkekeh sampai perut buncitnya bergerak-gerak. Kuamati pria necis itu dari kaca spion. Ia memakai setelan jas hitam dipadu dasi merah tua garis-garis putih yang longgar—mungkin sengaja dilonggarkan. Parfumnya wangi. Aku tak tahu pasti apa merknya. Mungkin Bulgari atau merk anu. Tapi yang jelas, wangi parfum mahal dan berkelas. Dan tentu saja bukan wangi parfum murahan yang dibelikan istriku, yang selalu kusemprotkan di ketekku setiap akan berangkat kerja. B...